Menyusuri Lahan Uang Polisi

Polisi Teman atau lawan ?
Cicak buaya telah selesai, akan tetapi polisi korupsi tidak pernah selesai, padahal masyarakat akan selalu menemui polisi untuk setiap urusan, hidup ini seakan selalu berurusan dengan polisi, tanpa polisi memang akan sangat sulit tapi dengan polisi uang selalu terlibat. Di jalan kita kerap temui razia kendaraan bermotor, dengan alasan mengurangi pencurian kendaraan bermotor, akan tetapi apakah pernah kita dengar pencuri kendaraan bermotor tertangkap dalam razia? Kita mungkin tidak pernah mendengarnya justru yang paling sering kita dengar yaitu masyarakat umum justru mengeluarkan uang dan kemana uang tersebut ? Hanya Tuhan dan polisi yang tahu, dalam aturan memang itu masuk ke kas negara, tapi siapa yang bisa memastikan dan mengawasinya ? Tidak ada.
Permasalahan hukum juga sebuah masalah saat melewati jalur polisi maka kerumitan dan biaya seakan berpasangan, masalah bukan cepat selesai tapi acap kali menggantung dan tidak selesai, siapa yang menjadi korban, kita, rakyat kembali yang menjadi korban. Permasalahan sikap, polisi dalam kenyataannya bukan menjadi pelayan masyarakat akan tetapi karena pangkat justru meminta di layani, iyakan ? kekuasaan, kekerasan, korupsi, dan pemerasan, selalu saja melekat pada polisi.
Masyarakat selalu dalam dilema dan menjadi korban untuk dalam setiap permasalahan. Polisi ada dimana-mana, korupsi ada dimana-mana, kesan polisi yang korup selalu membekas di hati, untuk itu edisi ini membahas lahan-lahan uang dari polisi yang selalu saja korup, korupsi bukan hanya karena kesejahteraan polisi tapi juga karena budayanya yang mengakar, menjadi warisan turun¬temurun. Dari masalah hukum hingga jalanan polisi selalu mencari cara untuk melakukan korupsi, mengapa korupsi itu selalu dilakukan akan terjawab di edisi ini dan bagaimana solusinya coba kami tawarkan dalam edisi kali ini.    
Tentu rakyat sangat mendambakan polisi menjadi teman yang ramah dan sangat membahagiakan, polisi yang suka membantu, tak perlu 24 jam akan tetapi saat diperlukan bertindak dengan tepat, cepat dan tanpa imbalan. Itu sudah sangat cukup untuk masyarakat. Kita mungkin tidak lupa akan satu sosok polisi pahlawan yang bernama Hoegeng akan tetapi pasti polisi lupa akan pahlawan mereka sendiri itu, jelas bukan, polisi sekarang justru kebalikan Hoegeng yang tak bisa di "beli" dan polisi sekarang bisa di "beli".
Hoegeng entah di lupakan oleh polisi atau memang di matikan prinsip-prinsipnya, ketinggalan zaman, mungkin itu anggapan polisi sekarang, tapi bila kita pikirkan dengan mendalam, Hoegeng itu polisi ideal yang cocok untuk setiap zaman, tak takut atasan, tegas, melayani dan yang pasti tak bisa di " beli". Mimpikah kita hoegeng dapat kembali ke dunia? Itu bukanlah mimpi, saat polisi di didik dengan kejujuran, kekerasan hanya saat di perlukan, senior bukanlah junjungan, dan uang adalah musuh utama, maka polisi seperti Hoegeng akan berada di samping setiap rakyat, ditambah pemegang kekuasaan tertinggi yang sepaham, maka negeri ibu pertiwi ini akan sangat siap untuk berdikari dan bersaing dalam mensejahterakan rakyatnya. Setiap tindakan menjadi tauladan, setiap tindakan polisi akan menjadi tindakan yang di contoh untuk polisi selanjutnya, maka polisi hentikanlah korupsi maka tubuhmu akan bersih dan rakyat akan memujamu! Semoga setiap polisi menjadi Hoegeng dan Hoegeng akan tersenyum bangga melihat anak cucunya, memegang prinsipnya!!!
Daftar isi :
-    Menyusuri Lahan Uang Polisi
-    Satreskrim Rentan Penyelewengan
-    Polisi Lembaga Pelaku Dan Pemeliharaan Korupsi
-    Catatan Kecil Riset COP
-    AKPOL Teken MoU dengan PUSHAM UII
-    Aku Ingin Jadi Peluru