MEMAHAMI SUBSTANSI HAK AZASI MANUSIA : KAJIAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN AGAMA

Oleh : Dr. H. Yayan Sofyan, MA

Sebelum menjelaskan substansi masalah sebagaimana dikehendaki panitia yang tertuang dalam judul, mari kita diskusikan bersama apa sebenarnya HAM itu? Pertanyaannya cukup sederhana dan terkesan lugu. Tapi ternyata tidak mudah juga untuk mendefinisikan konsep HAM yang dapat diterima apalagi dapat memuaskan semua pihak, terutama bagi masyarakat dunia ketiga yang mengalami pahit getirnya penjajahan barat dan korban kehidupan dunia global yang berwujud neokolonialisme. Menurut Nowak (2003), Aini (2007), ada 4 faktor penyebab :
1. Sejarah konstruksi atau perumusan HAM. Secara historis, rumusan instrument HAM baik nasional maupun internasional lahir dari konteks masyarakat Barat, Eropa, Amerika Utara, serta Kristen.
2. Masalah HAM sulit dipisahkan dari problem dinamika politik hegemonik barat dan ideologi kapitalisme, neokolonialisme, dan individualisme yang merupakan produk proyek modernisme. Dalam konteks ini, selalu terciptaatmosphere tarik ulur pemaknaan dan signifikansi isu HAM dlaam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Adanya perbedaan cara pandang tentang HAM. Ahli hokum akan cenderung memahami HAM dalam sudut pandang formalisme,hal ini berbeda dengan cara pandang ahli agama yang melihat dari sudut pandang agama, etika dan moral. Perbedaan ini tentu saja akan menghasilkan benturan, misalnya : jika HAM yang sifatnya asasi itu dianggap di atas segalanya termasuk agama, maka ada pihak yang berpendapat bahwa tafsir norma agama tidak boleh bertentangan dengan doktrin normatif HAM. Pemikiran ini tentu saja akan sulit diterima oleh ahli agama yang meyakini bahwa dogma agama tidak booleh dikalahkan oleh wacana sekuler.
(akibatnya adalah fatwa MUI yang mengharamkan pemikiran liberalisme, pluralisme dan sekularisme).
4. Terkait dengan sejarah relasi sosial-hukum-politik seperti kolonialisme dan pengalaman disharmoni Timur dan Barat, Islam dan Kristen yang berwujud pada relasi dominasi dan subordinasi. Pengalaman ini membuat banyak orang sulit melihat kelugugan dan netralitas konsep HAM yang ditawarkan dan diprovokasi oleh masyarakat Barat (Aini, 2007)